Penjelasan Tentang Peristiwa-peristiwa Terang

dikutip dari buku Rosario Suci oleh Stefan Leks.

Dalam Surat Apostoliknya berjudul Rosarium Virginis Mariae (Rosario Perawan Maria), yang dimaklumkan pada tanggal 16 Oktober 2002, Paus Yohanes Paulus II, antara lain menulis:

Di antara banyak peristiwa dalam hidup Yesus, hanya sedikit yang ditampilkan oleh rosario dalam bentuknya yang sudah sangat lazim dan dimeterai dengan pengesahan Gereja. Saya percaya bahwa untuk menggali secara penuh kekayaan kristologis yang terkandung dalam doa rosario, kiranya cocok menambahkan pola baru pada pola tradisional.

Tanpa mengurangi kebebasan tiap orang dan tiap jemaat, pola misteri dapat diperluas dengan menambahkan peristiwa-peristiwa pelayanan Yesus di muka umum antara pembaptisan dan sengsara-Nya. Dalam peristiwa baru ini kita merenungkan segi-segi penting dari pribadi Yesus sebagai pengejawantahan Allah yang definitif.

Lalu Paus menyebut masing-masing peristiwa itu secara umum:

Waktu dibaptis di Sungai Yordan, Yesus dimaklumkan sebagai Anak kesayangan Bapa. Kemudian Yesus tampil sebagai sosok yang memberitakan datangnya Kerajaan Allah, memberikan kesaksian tentang Kerajaan Allah lewat karya-karya-Nya, dan memaklumkan tuntutan-tuntutan Kerajaan Allah. Dalam tahun-tahun pelayanan publik inilah misteri Kristus tampak paling jelas sebagai misteri terang: ‘Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.’ (Yoh 9:5). [No. 19]

Paus melanjutkan pemikirannya tentang peristiwa-peristiwa terang itu dalam No. 21:

Dari masa kanak-kanak Yesus dan hidup-Nya yang tersembunyi di Nazaret kita beranjak ke hidup Yesus di hadapan umum. Di sini kontemplasi membawa kita kepada peristiwa-peristiwa yang secara khusus dapat disebut peristiwa terang. Memang, seluruh misteri Kristus adalah misteri terang. Yesus adalah “terang dunia” (Yoh 8:12). Tetapi kebenaran ini muncul secara khas selama tahun-tahun hidup Yesus di hadapan umum, selama Ia memaklumkan Injil Kerajaan Allah.

Dalam mengusulkan lima peristiwa penting selama masa hidup Yesus, yakni peristiwa “terang”, saya kira tepatlah ditonjolkan peristiwa-peristiwa berikut:
1. Yesus dibaptis di Sungai Yordan,
2. Yesus menyatakan diri-Nya dalam pesta pernikahan di Kana,
3. Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan,
4. Yesus berubah rupa di Gunung Tabor,
5. Yesus menetapkan Ekaristi sebagai ungkapan sakramental misteri Paskah.

Lebih lanjut, Paus memberi komentar sisngkat pada masing-masing peristiwa terang itu. Tulisnya sebagai berikut:

Masing-masing peristiwa di atas adalah pewahyuan Kerajaan Allah, yang kini tampak dalam pribadi Yesus. Pembaptisan di Sungai Yordan pertama-tama adalah peristiwa terang. Di sini, ketika Yesus turun ke air, Ia yang tak berdosa dijadikan “dosa” demi kita (2 Kor 2:21), langit terbuka lebar, dan suara Bapa menyatakan Dia sebagai Anak kesayangannya (Mat 3:17 dsj), sementara Roh Kudus turun atas Dia untuk menyerahkan kepada-Nya perutusan yang harus Ia laksanakan.

Peristiwa terang yang kedua adalah Yesus menyatakan tandayang pertama dari tanda-tanda yang Ia kerjakan. Peristiwa ini terjadi di Kana (Yoh 2:1-12), saat Yesus mengubah air menjadi anggur, membuka hati para murid kepada iman dan bersyukur atas campur tangan Maria, orang pertama dari antara kaum beriman.

Peristiwa terang yang ketiga, Yesus memberitakan datangnya Kerajaan Allah, memanggil orang untuk bertobat (Mrk 1:15), dan mengampuni dosa-dosa semua yang mendekat kepada-Nya dengan penyerahan yang tulus (Mrk 2:3-13; Luk 7:47-48); inilah peluncuran pelayanan belas kasih yang terus Ia laksanakan sampai akhir zaman, khususnya lewat sakramen rekonsiliasi yang telah Ia percayakan kepada Gereja (Yoh 20:22-23).

Peristiwa terang yang paling utama adalah Yesus berubah rupa (atau: menampakkan kemuliaan-Nya), yang seturut tradisi telah terjadi di Gunung Tabor. Kemuliaan Allah memancar dari wajah Yesus sementara Bapa memberi perintah kepada para rasul yang tercengang-cengang untuk “mendengarkan Dia” (Luk 9:35 dsj) dan untuk bersiap-siap mengalami sakratul maut bersama Dia, tetapi juga menyongsong bersama Dia sukacita kebangkitan dan hidup baru yang telah diragakan oleh Roh Kudus.

Peristiwa terang terakhir adalah Yesus menetapkan Ekaristi. Di sini Yesus menyerahkan tubuh dan darah-Nya dalam tanda roti dan anggur, dan menyatakan “sampai tuntas” kasih-Nya terhadap umat manusia (Yoh 13:1)); demi keselamatan mereka Ia akan mengurbankan diri-Nya.

Paus mengakhiri renungan singkat ini dengan bicara sejenak mengenai peranan Bunda Maria dalam peristiwa-peristiwa terang.

Dalam peristiwa-peristiwa ini, kecuali dalam mukjizat di Kana, kehadiran Maria tersamar di latar belakang. Injil hanya sekilas menyinggung kehadirannya pada salah satu kesempatan Yesus mengajar (Mrk 3:31-35; Yoh 2:12), dan tidak memberi petunjuk bahwa ia hadir dalam Perjamuan Terakhir, saat Yesus menetapkan Ekaristi.

Tetapi peran yang ia tunjukkan di Kana kiranya selalu menyertai Yesus sepanjang pelayanan-Nya. Pewahyuan yang dinyatakan sendiro oleh Bapa-Nya pada pembaptisan Yesus di Sungai Yordan dan digemakan oleh Yohanes Pembaptis, diucapkan oleh Maria di Kana, “Lakukanlah apa yang Ia katakan” (Yoh 2:5). Amanat ini menjadi amanat bundawi terbesar yang disampaikan Maria kepada Gereja di setiap zaman. Amanat ini merupakan pengantar yang tepat untuk kata-kata dan tanda-tanda yang dibuat Yesus dalam pelayanan di hadapan umum, dan ini menjadi dasar keyakinan bahwa Maria sungguh terlibat dalam semua peristiwa terang.” [No. 21]

Paus mengakhiri suratnya dengan doa singkat kepada Ratu Rosario dari Pompei. Di kota Pompei berdiri sebuah gereja yang didedikasikan kepada Santa Perawan Maria. Gereja itu dibangun oleh Beato Bartolo Longo, rasul sejati doa rosario yang yakin bahwa “siapa saja yangmenyebarkan doa rosario akan selamat”. Ia mendirikan gereja itu di depan puing-puing kota Pompei lama yang nyaris teidak mendengar pemakluman tentang Kristus sebelum tertimbun pada tahun 79 Masehi karena letusan Gunung Vesuvius. Baru berabad-abad kemudian kota itu muncul dari timbunan lahar sebagai suatu kesaksian mengenai terang dan bayang-bayang peradaban klasik. Lewat seluruh karya sepanjang hayatnya, tulis Paus, Bartolo Longo memajukan hakikat kristosentris dan kontemplatif doa rosario. Dan dia mendapat dorongan serta dukungan kuat dari Leo XIII, yang dijuluki ‘Paus Rosario’. [No. 8]

Inilah doa Paus kepada Maria Ratu Rosario:
Ratu Rosario dari Pompei,
Bunda yang terkasih,
Pengungsian orang yang berduka.
Kiranya engkau dipuji dimana-mana,
sekarang dan selalu,
di bumi dan di surga.
[No. 43]

Tagged with:

Filed under: Doa