Penjelasan Peristiwa Terang Ketiga: Yesus Memberitakan Kerajaan Allah Sambil Menyerukan Pertobatan.

Di manakah Kerajaan Allah? Di tempat Allah benar-benar menempati kedudukan utama, baik di hati maupun di dalam pilihan-pilihan manusia, khususnya dalam hirarki cintanya. Jika Allah di tempat utama, semuanya yang lain dengan sendirinya ada pada tempatnya. Manusia mengalami sukacita, damai dan relasinya dengan siapa pun juga lancar.

Namun, Kerajaan Allah tetaplah karunia yang dapat diterima manusia dari Tuhan saja. Hanya Dia berkuasa menyingkirkan dosa, penghalang terbesar Kerajaan Allah.

Orang yang biasa membaca Injil pasti tahu bahwa Yesus ingin menghidupkan harapan akan Kerajaan Allah terutama dalam diri orang miskin, malang, dan tersingkir oleh pimpinan maupun masyarakat.

Yesus sendiri mulai memberitakan Kerajaan Allah bukan di Roma, bukan di Yerusalem, melainkan di Galilea Utara, di Tanah Zebulon dan Naftali (Mat 4:12-23), di daerah yang dianggap paling kurang religius. Menurut perhitungan manusiawi, Yesus seharusnya pergi ke tempat elit, bukan kepropinsi yang paling terlantar secara spiritual. Sebagai pemberita Kerajaan Allah, Yesus seharusnya memilih rekan-rekan kerja yang paling cocok, bukan nelayan-nelayan biasa yang umumnya bersikap kasar dan tidak pandai bersilat lidah dan meyakinkan pendengar.

Allah memang tidak memandang orang. Bagi-Nya orang buta huruf pun senilai Aristoteles, Kopernikus, Einstein… Sama halnya dengan Yesus, Dia pun menjadi pemberita di tengah-tengah orang tersingkir dan malang. Ia mendekati orang-orang berdosa yang mau membuka hati terhadap amanat-Nya. Ia tidak membagi masyarakat atas golongan baik dan jahat. Bagi Dia, semua orang adalah harta yang tak ternilai. Semua orang ingin diantarkan-Nya ke dalam hidup yang kekal. Termasuk kelas masyarakat lapisan paling ‘bawah’ yang sering diperlakukan secara kurang manusiawi.

Amanat Kerajaan Allah adalah kabar baik bahwa bagi Allah, manusia lebih berharga daripada diduga oleh manusia sendiri.

Tagged with:

Filed under: Doa