Renungan Archives

Tiga Landasan Utama Doa

Berikut ini 3 landasan utama yang perlu diperhatikan dalam doa kita, supaya doa kita dapat dikabulkan:

1. Minta ampun atas segala kesalahan dan kejahatan yang kita lakukan baik sengaja maupun tidak. Merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah TUHAN, lalu berbalik dari perbuatan kita yang jahat, maka TUHAN akan mendengar, mengampuni dosa, serta memulihkan negeri mereka.

2. Doa harus sejalan kehendak TUHAN, tidak bertentangan dengan ketetapan-ketetapanNYA. Kamu berdoa, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu, hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

3. Pergunakan Imanmu. Perkataan dan tingkah laku kita harus sesuai dengan apa yang kita minta dan doakan kepada TUHAN. Sesungguhnya barang siapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah kedalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu TUHAN berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

Jadi kadang mengapa doa kita tidak di jawab? “Sesungguhnya tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNYA tidak kurang tajam untuk mendengar, tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan ALLAHmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat DIA menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga IA tidak mendengar, ialah segala dosamu”.

Karena ALLAH itu Kasih, Suci dan Kudus, tanpa kekudusan seseorang tidak akan bertemu dengan ALLAH.

Tuhan Selalu memberkati kita semua..

Harus Mau Mengampuni Karena Kita Lebih Dahulu Diampuni

Matius 18:21-35

Bagi banyak orang, mengampuni ternyata bukan tindakan yang mudah. Siapa orang yang mau mengampuni sahabat yang berkali-kali memfitnah dirinya? Istri atau suami mana yang gampang mengampuni pasangannya yang selingkuh? Anak mana yang cepat mengampuni orang tuanya yang sejak kecil tidak pernah peduli bahkan selalu melakukan kekerasan kepada dirinya? Tetapi barangkali persoalannya bukan mudah atau susah, melainkan mau atau tidak.

Untuk menjelaskan soal pengampunan, Yesus mengambil perumpamaan tentang seorang yang berhutang kepada raja sebanyak 10.000 talenta (1 talenta bernilai 10.000 dinar, ada jua yang mengatakan 6.000 dinar). Kita pakai yang terendah 1 talenta = 6.000 dinar, maka hamba tersebut berhutang 10.000 x 6.000 dinar = 60.000.000 (enam puluh juta) dinar. Jika 1 dinar adalah upah buruh sehari, maka hutang hamba tersebut adalah 60 juta hari atau sekitar 165 tahun upah buruh kerja. Banyak sekali! Upah seumur hidup pun tak cukup untuk melunasi hutangnya. Itulah sebabnya, raja menyuruh menjual dia beserta anak dan istrinya – sebagai budak – dan segala miliknya. Sesungguhnya, kalaupun itu dilakukan, belum cukup untuk membayar hutangnya yang sangat besar itu. Tetapi setelah hamba itu memohon belas kasihan, raja itu menghapuskan seluruh hutangnya, lalu keluar dari istana.

Setelah mendapat pengampunan, di luar ia bertemu dengan temannya yang berhutang 100 dinar saja (setara dengan 100 hari upah buruh). Ia memaksa temannya itu untuk membayar hutangnya, dan sekalipun temannya sudah meminta belas kasihan, ia menolaknya, bahkan memenjarakannya. Ketika raja mendengar hal tersebut, ia menyerahkan hamba tersebut kepada algojo-algojo. Pesan perumpamaan tersebut dinyatakan dalam ayat 35: Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu.

Sumber: Warta Mingguan Paroki Santa Odilia (Minggu, 18 Desember 2011)

Jadi intinya, Allah telah mengampuni kita yang berdosa ini, maka kita pun harus mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita.

Munafik?

Dalam Injil yang dibacakan dalam perayaan Ekaristi hari Minggu kemarin, Yesus mengkritik orang-orang yang tidak melakukan apa yang dia omongkan.

Kalau saya pribadi mencerna hal ini, mungkin yang dimaksud oleh Yesus adalah orang-orang yang munafik ya? Orang yang gembar-gembor bahwa kita harus berbuat baik, tapi dia sendiri tidak berbuat baik. Orang yang menyuruh orang lain melakukan sesuatu, tapi dia sendiri tidak atau bahkan tidak mau melakukannya. Masuk kategori orang munafik kan?

Nah, pertanyaannya, kalau atasan menyuruh bawahannya untuk melakukan sesuatu yang memang sudah tugas si bawahan, dan si atasan tidak mau melakukan hal itu, apakah termasuk yang dikritik oleh Yesus? Misal seorang presiden direktur menyuruh petugas kebersihan membersihkan WC. Si presdir sudah jelas tidak akan mau kalau dia sendiri disuruh membersihkan WC, dan itu memang sudah kewajiban si petugas kebersihan. Apakah ini termasuk hal yang dikritik oleh Yesus?

Siapakah Yesus itu?

Pelajaran Kimia: Ia mengubah air jadi anggur.
Pelajaran Biologi: Ia dilahirkan tanpa melalui hubungan biologis orang tuanya.
Pelajaran Fisika: Ia tidak bergantung pada hukum gravitasi ketika terangkat ke Soranga.
Pelajaran Ekonomi: Ia tidak bergantung pada hukum kurang karena penggunaan ketika memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan .
Pelajaran Kesehatan: Ia menyembuhkan orang sakit dan buta tanpa menggunakan obat.
Pelajaran Sejarah: Ia adalah yang awal dan yang akhir.
Dalam pemerintahan: Ia dipanggil sebagai penasihat ajaib, Raja Damai.
Pelajaran Agama: Ia berkata tak seorangpun datang kepada Bapa kecuali melalui Dia

Jadi… Siapakah Dia? Dia adalah Yesus!
Dia mulia, banyak mata tertuju pada pesan ini dan yang tidak tertuju pada yang jahat.

Banyak tangan akan mengirimkan pesan ini kepada setiap orang dan mulut mereka berkata ‘Amin’.
Di dalam Dia saya menemukan segalanya. Pribadi yang terbesar dalam sejarah, YESUS.

Tanpa pelayan, tetapi mereka memanggilNya TUAN.
Tanpa gelar, tetapi mereka memanggilNya GURU.
Tanpa Obat, tetapi mereka memanggilNya PENYEMBUH.
Tanpa pasukan, tetapi Raja-raja takut kepadaNya.
Tanpa peperangan, tetapi Yesus menang.
Tidak membuat kejahatan, tetapi mereka menyalibkanNya.

Ia dikuburkan, tetapi Ia bangkit dan hidup selamanya.
Saya merasa terhormat untuk melayaniNya sebagai ‘The Greatest Leader’ yang mengasihi kita!

Dekati Tuhan

Lucu ya,
Uang Rp 20,000an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kantong prsembahan tapi begitu kecil bila kita bawa ke mall.

45 menit terasa terlalu lama untuk beribadah, tapi betapa pendeknya waktu itu untuk PACARAN.

Betapa lamanya 2 jam berada di Gereja, tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film di bioskop.

Susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa, tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan bila ketemu teman atau pacar.

Betapa serunya perpanjangan waktu di pertandingan bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila kotbah pendeta kelamaan.

Susah banget baca Alkitab 1 bab saja, tapi novel best-seller 1000 halaman pun habis dilalap.

Orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, tapi ke Gereja kita berebut cari tempat duduk paling belakang biar bisa cepat keluar.

Susahnya orang mengajak partisipasi untuk berdoa bersama, tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gossip.

Kita begitu percaya pada yang dikatakan koran / majalah, tapi kita sering mempertanyakan apa yang dikatakan Alkitab.

Begitu banyak orang segan / takut dipanggil sama boss, pejabat, dan orang “besar” lainnya, tapi begitu banyak orang yang cuek jika ada panggilan dari Allah.

Kita bisa ngirim ribuan jokes lewat email, bbm, tapi bila ngirim yang berkaitan dengan Yesus sering mesti berpikir dua-kali.

Tuhan berkata, “Jika engkau lebih mengejar duniawi daripada mengejar dekat denganKu maka tidak akan Aku berikan, tapi Aku akan menjauhi kalian dari surga Ku.”

Tertidur di Gereja

Pernahkah Anda tertidur saat mengikuti misa / perayaan Ekaristi di gereja? Saya pernah, hmm.. mungkin malah cukup sering juga :) Terutama saat homili, dan jika pastor yang memimpin misa kurang bersemangat cara bicaranya, atau kalau boleh dibilang bikin ngantuk! Kadang saat Firman Tuhan dibacakan (bacaan 1 dan 2), saya mengantuk juga. Saya juga sering melihat orang lain tertidur koq, jadi saya tidak sendirian ya :D

Sebetulnya sayang ya kalau kita tertidur saat mengikuti misa, kita tidak menerima secara penuh apa yang disampaikan oleh pastor, tidak menerima penuh Firman Tuhan. Tapi rasa kantuk datang dengan sendirinya, pada saat ngantuk datang kita tidak bisa mencegahnya.

Untuk menyiasati supaya rasa kantuk hilang, mungkin kita bisa makan permen. Berdasarkan pengalaman, menegakkan posisi duduk dan membelalakkan mata tidak terlalu membantu, nantinya pasti ngantuk lagi.

Nah, kalau begitu kenapa kita bisa mengantuk ya? Salah satu sebabnya adalah tubuh yang lelah. Kalau Anda datang ke misa sore, mungkin seharian dari pagi sampai sore Anda telah lelah bekerja. Tidak bekerja karena hari libur? Mungkin Anda baru saja jalan-jalan bersama keluarga ke mall atau ke tempat lain sebelum ke gereja, jadi tubuh sudah cukup lelah. Kalau Anda datang ke misa pagi dan mengantuk juga, mungkin Anda habis begadang malam sebelumnya, main komputer, nonton tv, nonton bola dan lain sebagainya.

Jadi, sebaiknya persiapkan diri Anda terlebih dahulu sebelum berangkat ke gereja, supaya di gereja Anda tidak mengantuk, tidak tertidur dan bisa menerima Firman Tuhan dengan baik. Kalau soal pastor yang bikin ngantuk, itu lain perkara dan susah diatasi :mrgreen: